Mengoptimalkan bakat anak dengan peran orang tua
Mengoptimalkan
Bakat Anak TK Tahun Melalui
Peran
Orang Tua di Masa Pandemi
Oleh:
Nabilah Aqmarina 23010190074
Anak suatu dari titipan Tuhan yang harus kita jaga dan kita didik agar ia menjadi
manusia yang berguna dan tidak menyusahkan siapa saja. Secara umum anak
mempunyai hak dan kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya terutama dalam
bidang pendidikan. Namun seringkali kita melihat perkembangan prestasi anak
yang ternyata tergolong memiliki bakat istimewa. Setiap individu hendaknya
mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara optimal sesuai dengan
kemampuan, kecerdasan, bakat, minatnya, latar belakang dan lingkungan fisik
serta sosial masing-masing siswa maka kemajuan belajar siswa yang setingkat
(sekelas) mungkin tidak sama. Bakat sendiri mempuyai artian yaitu suatu kondisi pada
seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu
kecakapan, pengetahuan, keterampilan khusus. Jadi, bakat bisa digali
mulai dari usia dini, sehingga saat sudah mulai dewasa sudah terlihat potensi
apa yang ia miliki. Namun itu semua tergantung lagi bagaimana peran orang tua
dalam kehidupan sehari-harinya, ditambah lagi di masa pandemi seperti, orang tua
harus bisa manjadi ibu sekaligus guru di rumah. Dampak adanya Covid-19 ini
tidak hanya mempengaruhi dunia pendidikan namun banyak sekali yang terkena
dampaknya. Salah satunya yaitu dalam bidang ekonomi, dengan adanya Covid-19
mata pencaharian orang-orang yang ada di Indonesia menjadi terganggu, misal di pasar
biasanya banyak ibu- ibu setiap pagi untuk berbelanja berbagai macam sayuran
kini ibu- ibu lebih memilih menunggu tukang sayur keliling lewat. Hal tersebut
dilakukan karena penularan Covid-19 sangat mudah apalagi dengan berkerumun bisa jadi salah satu dari mereka ada yang
terkena. Karena korban Covid-19 per21 Desember 2020 sudah mencapai mencapai
671.778 orang. Kita sebagai warga Indonesia yang taat peraturan sebisa mungkin
melakukan 3M : memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.
Awal
mula virus Covid-19 masuk ke Indonesia sudah mulai dari bulan Januari namun
orang Indonesia yang terkena Covid-19 tercatat pada bulan Maret, yang tertular
lewat orang Jepang. orang jepang tersebut selesai berkunjung ke Indonesia. Semakin hari kasus Covid-19 ini semakin berkembang dengan bertambah banyak jumlah positif dan kematian
disetiap harinya. Sehingga berdampak juga bagi pendidikan yang ada di
Indonesia. Biasanya pembelajaran dilakukan dikelas dengan banyak teman dan bertatap muka langsung dengan guru namun kini diadakan secara online. Peralihan
cara pembelajaran ini memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang bisa
ditempuh. Upaya negara dalam menghambat penyebaran virus juga merambah ke dunia
pendidikan. Berdasarkan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang
Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19,
memberi himbauan bahwa pelaksanaan pembelajaran dilakukan dari rumah melalui
pembelajaran daring atau pembelajaran dari rumah. Pelaksanaan kegiatan
pembelajaran dari rumah biasanya dilakukan menggunakan google classroom, grup
whatsapp, grup telegram, atau media yang lainnya. Melalui media pembelajaran
daring tersebut guru berusaha menyampaikan materi kepada siswa.
Tidak
selancar yang dibayangkan karena banyak faktor yang menghambat terlaksananya
pembelajaran daring ini, diantaranya penguasaan teknologi yang masih rendah
dari guru, orang tua maupun peserta didik sendiri, kemudian faktor jaringan
internet yang tidak semua madrasah atau sekolah sudah terkoneksi ke internet.
Ada lagi masalah sarana dan prasarana bagi keluarga yang kurang mampu untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi masih kurang ditambah dengan tanggungan membeli kuota untuk bisa mengakses internet.
Untuk
itu Pada tahap pertama, peranan orang tua dalam pendidikan anak yaitu
mengajarkan anak pendidikan agama seperti mengajarkan anak untuk melakukan
ibadah, mengajarkan anak membaca serta menyuruh anak untuk mengikuti kegiatan
yang positif. Pada tahap kedua, peranan orang tua dalam pendidikan anak yaitu
mengajarkan anak pendidikan sosial seperti mengajarkan anak untuk bertingkah
laku yang sopan, mengajarkan anak saling menyayangi sesama sudara, mengajarkan
anak untuk saling menyapa, mengajarkan anak untuk hidup hemat, mengajarkan anak
untuk menjalin persahabatan yang baik kepada saudara dan orang lain dan
mengajarkan anak memilki sikap adil. Pada tahap ketiga, peranan orang tua dalam
pendidikan anak yaitu mengajarkana anak pendidikan akhlak seperti mengajarkana
anak sifat jujur dan sabar.
Pada
usia anak 5 tahun atau pertama kali seorang anak melakukan kegiatan yang sangat
menyenangkan bisa bertemu dengan teman sebayanya, tetapi mulai dari tahun 2020
ini anak-anak usia 5 tahun belajar dengan ibunya sendiri. Dari hal tersebut
anak merasa tidak punya teman setau mereka masa ini adalah liburan. Seperti yang terjadi
di daerah saya orang tua yang bercerita bahwa anaknya susah untuk mengerjakan
tugasnya, tidak semangat dalam mengerjakan tugasnya pula. ternyata tidak semua orang
tua bisa seperti guru di sekolah. Banyak orang tua tidak telaten, anak biasanya
malah dibentak-bentak yang juga efeknya kurang bagus. Mungkin karena keadaan
situasi dan kondisi, anak jadi kurang semangat di rumah sehingga jenuh, tidak
ada teman-teman, dan tidak ada yang memotivasi. Memang tidak bisa dipungkiri,
salah satu sifat anak-anak adalah mereka sangat mudah untuk berubah pikiran dan
berubah suasana hatinya.
Menanggapi masalah yang demikian memang orang tua sudah dituntut untuk mau tidak mau harus bisa semua, karena anak tanpa peran orang tua tidak jelas mau jadi apa dia di masa yang akan datang apalagi pada usia anak yang masih terbilang muda harus ekstra diberi dorongan biar kuat kedepannya. Namun sebelumnya, orang tua harus bereksperimen dahulu mana model belajar anak yang disukainya. Model pembelajaran ini ada 3 yaitu yang pertama visual: gaya belajar yang dominan menggunakan media gambar atau alat peraga yang berwarna - seperti penggunaan animasi, video Youtube, atau aplikasi di ponsel dalam memaparkan materi. Yang kedua pendengaran: Intonasi, volume, dan artikulasi suara saat menjelaskan menjadi hal penting yang dapat membantu pemahaman model belajar ini. Anak yang suka dengan gaya belajar ini sangat perlu untuk membaca materi yang diberikan dengan suaranya sendiri agar dapat mengingat materi lebih mudah. Orangtua dapat membantu mereka, misalnya, dengan menceritakan kembali materi dalam bentuk dongeng atau cerita yang menarik. Yang ketiga gerakan: Kegiatan pembelajaran yang dikerjakan langsung, seperti percobaan sederhana atau merakit benda, akan sangat membantu anak yang suka dengan gaya belajar ini. Orang tua, misalnya, bisa mengajak anak untuk memakai bola-bola kecil untuk menghitung dalam belajar matematika.
Dampak
daring di masa pandemi ini adalah serta merta menyadarkan kita akan potensi
luar biasa internet yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam berbagai bidang,
termasuk bidang pendidikan. Tanpa batas ruang dan waktu, kegiatan pendidikan
bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Terlebih lagi, di era dimana belum ada
kepastian kapan pandemi ini akan berakhir, sehingga pembelajaran daring adalah
kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Namun, dibalik setiap sisi
positif suatu hal, pastilah tersimpan sisi negatif, atau setidaknya kemungkinan
buruk yang bisa saja terjadi. Meskipun secara formal kegiatan pendidikan masih
bisa dilakukan secara daring, namun karena siswa dan mahasiswa harus belajar di
rumah, pendidikan karakter selama masa pandemi ini, rasanya menjadi sedikit
terabaikan. Misalnya saja
di beberapa sekolah Islam, yang menekankan pendidikan karakter dengan kegiatan
peribadatan seperti sholat sunnah dan wajib secara berjama’ah, atau pengajian
Al Quran.
Menanggapi
hal tersebut, terdapat beberapa alternatif cara yang dapat dilakukan orangtua
di semua tingkatan sekolah sebagai bentuk perhatian dan pengawasan kepada anak
dalam pelaksanaan sekolah daring ini agar hasil pembelajaran dapat diperoleh
secara maksimal dan optimal adalah yang pertama, Disiplin. Meskipun anak
berada di rumah, orang tua tetap harus memperlakukan kebiasaan saat anaknya
bersekolah. Yang kedua, Tepat waktu. Ingatkan anak, meski mereka berada
di rumah, bukan berarti mereka bisa bersantai dan bermain sepanjang hari mereka
juga tetap memiliki tanggungjawab kepada tugas-tugas yang telah diberikan oleh
guru melalui sekolah online tersebut. Yang ketiga, Selalu mendampingi anak
dalam belajar. Pendampingan orangtua dalam rangka tetap mengawasi pelaksanaan
sekolah online yang dilakukan oleh anak harus diperhatikan beik-baik. Orangtuan
harus senantiasa mendampingi anak pada saat sebelum pelaksanaan jam sekolah
online dimulai, pada saat sekolah online berlangsung, sampai dengan setelah
pelaksanaan sekolah onile berakhir. Yang keempat, Apabila menemui
kesulitan, segera konfirmasi kepada guru yang bersangkutan. Orangtua harus
selalu menjaga hubungan dengan guru pada proses pelaksanaan pembelajaran jarak
jauh ini. Dengan begitu, koordinasi antara guru dan orangtua akan selalu
terjalin. Yang kelima, Evaluasi. Evaluasi penting dilakukan untuk mengetahui
apakah kegiatan belajar di rumah berjalan sesuai jadwal. Jika anak terlambat
dalam menyelesaikan tugas, cari penyebabnya[1].
Bagaikan
bagian dari upaya menghentikan penyebaran wabah Covid- 19 pemerintah sudah
alihkan kegiatan pendidikan dari sekolah ke rumah masing-masing. Supaya
tidak disalah artikan sebagai hari libur, siswa juga diberi tugas- tugas
pendidikan supaya mereka senantiasa dalam atmosfer belajar. Sebab itu, para
guru diharuskan mendesain sedemikan rupa tugas-tugas untuk partisipan didik
sepanjang di rumah. seperti itu, komunikasi ialah kunci yang sangat berarti oleh pihak sekolah ( guru) serta orangtua supaya proses sekolah online ini
senantiasa terlaksana secara intensi dengan hasil yang tidak terpaut jauh
dengan pendidikan tatap muka( di kelas). Selain itu, guru pula wajib bawa
budaya belajar di sekolah ke dalam rumah( ruang keluarga) para peserta didik. Maksudnya, dengan berbagai tugas yang disiapkan itu, para guru harus
mengondisikan para orang tua siswa seperti halnya di sekolah.
[1] Tsaniya Zahra
Yuthika Wardhani, Hetty Krisnan, OPTIMALISASI PERAN PENGAWASAN ORANG TUA
DALAM PELAKSANAAN SEKOLAH ONLINE DI MASA PANDEMI COVID-19, Prosiding
Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, Vol 7, No: 1 Hal: 56- 57 April
2020
Komentar
Posting Komentar